Museum Song Terus Pacitan

Museum Song Terus Pacitan berada di Dusun Weru, Desa Wareng, Kecamatan Punung, di kawasan Cagar Budaya Gunung Sewu. Museum ini berseberangan dengan Situs Song Terus dan memamerkan temuan prasejarah, mulai dari kerangka manusia purba hingga alat-alat batu. Cocok untuk melengkapi kunjungan ke Goa Gong dan Goa Tabuhan di Punung dengan sisi sejarah dan edukasi.

Daya Tarik

  • Koleksi prasejarah berupa kerangka manusia, fosil hewan dan tumbuhan, serta alat-alat prasejarah dan batuan.
  • Enam ruang pamer yang disusun secara kronologis.
  • Bangunan tiga lantai yang dibuka untuk umum sejak Oktober 2022.
  • Letak berseberangan dengan Situs Song Terus, tempat temuan-temuan tersebut berasal.

Aktivitas

  • Menyusuri ruang pamer dan membaca informasi koleksi.
  • Mengisi buku tamu di meja resepsionis sebelum masuk.
  • Menggunakan perpustakaan, kafetaria, dan ruang audio visual yang tersedia di museum.
  • Belajar sejarah prasejarah Gunung Sewu bersama anak dan pelajar.

Lokasi dan Akses

Museum berada di Jalan Goa Song Terus, Dusun Weru, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan. Jaraknya sekitar 22 km dari pusat Kota Pacitan. Menurut Kompas.com (2023), waktu tempuhnya sekitar 37 menit dengan sepeda motor atau 40 menit dengan mobil. Lokasinya satu arah dengan Goa Gong dan Goa Tabuhan di Punung.

Informasi Berkunjung

Berdasarkan Wikipedia, tiket masuk mulai 1 Agustus 2024 adalah Rp10.000 untuk anak, Rp15.000 untuk dewasa, dan Rp30.000 untuk warga negara asing. Sebelumnya, pada 2023, museum ini masih gratis. Museum buka Selasa sampai Minggu, tutup setiap Senin dan hari besar keagamaan. Jam bukanya ditulis 08.30-15.00 WIB di beberapa sumber, sementara informasi resmi museum menyebut 08.00-16.00 WIB, jadi sebaiknya datang lebih awal.

Fasilitas yang disebut sumber: toilet, mushala, perpustakaan, kafetaria, ruang audio visual, auditorium berkapasitas 63 kursi, dan mes dengan 18 kamar. Rombongan yang ingin memakai auditorium atau mes perlu bersurat terlebih dahulu.

Tips Berkunjung

  1. Datang pagi hari agar punya cukup waktu menikmati enam ruang pamer.
  2. Hindari hari Senin karena museum tutup.
  3. Siapkan uang tunai untuk tiket dan jajan di sekitar kawasan.
  4. Rombongan sekolah atau komunitas sebaiknya bersurat dan konfirmasi jadwal lebih dulu.
  5. Gabungkan dengan Goa Gong dan Goa Tabuhan agar perjalanan ke Punung lebih efisien.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Di mana lokasi Museum Song Terus?

Di Dusun Weru, Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, sekitar 22 km dari pusat kota.

Berapa tiket masuk Museum Song Terus?

Menurut Wikipedia, mulai 1 Agustus 2024: anak Rp10.000, dewasa Rp15.000, warga negara asing Rp30.000.

Kapan museum ini buka?

Selasa sampai Minggu. Jamnya ditulis 08.30-15.00 WIB di beberapa sumber, dan 08.00-16.00 WIB menurut informasi resmi museum. Tutup setiap Senin dan hari besar keagamaan.

Apa saja koleksinya?

Kerangka manusia purba, fosil hewan dan tumbuhan, serta alat-alat prasejarah, yang disusun di enam ruang pamer.

Ingin menyusun rute museum bersama Goa Gong dan Goa Tabuhan? Hubungi Mujiati Tour Pacitan untuk merancang perjalanan privat sesuai waktu dan jumlah rombonganmu.

Museum dan Galeri SBY-ANI Pacitan

Museum dan Galeri SBY-ANI Pacitan menampilkan perjalanan hidup Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden keenam Republik Indonesia, dan Ani Yudhoyono. Museum ini diresmikan pada 17 Agustus 2023 dan dibuka untuk umum sehari setelahnya. Letaknya di tepi Jalur Lintas Selatan, Kabupaten Pacitan, tempat kelahiran SBY.

Apa yang Bisa Dilihat

  • Ruang utama dengan figura besar SBY dan Ani Yudhoyono.
  • Ruang kontemplasi yang memuat replika kamar masa kecil SBY, kisahnya sebagai prajurit, hingga perjalanan politiknya sampai terpilih sebagai presiden pada Pemilu 2004.
  • Diorama yang menampilkan momen pernikahan SBY dan Ani, serta lukisan karya SBY untuk mendiang istrinya.
  • Galeri seni Ani Yudhoyono berisi foto-foto dan puisi karyanya.
  • Fasilitas pendukung seperti perpustakaan, kafe, dan toko suvenir.

Lokasi

Museum dan Galeri SBY-ANI berada di Jalur Lintas Selatan (JLS), Kelurahan Ploso, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Bangunannya didominasi warna putih sehingga mudah dikenali dari tepi jalan.

Jam Buka dan Tiket

Berdasarkan pemberitaan Agustus 2023, museum buka setiap hari kecuali Selasa, pukul 09.00 sampai 17.00 WIB. Tiket Rp25.000 untuk warga Pacitan, Rp50.000 untuk wisatawan domestik dari luar Pacitan, dan Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara, tarif yang sama masih tercantum pada daftar tarif Dinas Pariwisata Pacitan yang diperbarui Mei 2024. Cek lagi informasi terbaru di akun resmi museum sebelum berkunjung.

Tips Berkunjung

  1. Hindari hari Selasa karena museum tutup.
  2. Sisihkan waktu 1-2 jam untuk menikmati ruangan dan membaca keterangan.
  3. Hormati ruangan dan koleksi. Ikuti aturan petugas, terutama soal foto.
  4. Gabungkan dengan wisata kota atau pantai di sekitar Pacitan.
  5. Siapkan uang tunai atau pembayaran digital sesuai ketentuan loket.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kapan museum ini diresmikan?

Pada 17 Agustus 2023, dan dibuka untuk umum sehari setelahnya.

Apakah museum buka setiap hari?

Menurut pemberitaan, buka setiap hari kecuali Selasa.

Berapa tiket masuknya?

Rp25.000 untuk warga Pacitan, Rp50.000 untuk wisatawan domestik non-Pacitan, dan Rp100.000 untuk wisatawan mancanegara (tarif 2023, tercantum juga pada daftar Dinas Pariwisata Pacitan Mei 2024).

Apakah ada fasilitas pendukung?

Ada perpustakaan, kafe, dan toko suvenir.

Museum ini cocok untuk wisata edukasi dan sejarah bagi keluarga maupun rombongan sekolah. Untuk menyusunnya bersama destinasi lain, hubungi Mujiati Tour Pacitan atau lihat juga Monumen Jenderal Sudirman sebagai destinasi sejarah di Pacitan.

Monumen Jenderal Sudirman Pacitan

Monumen Jenderal Sudirman Pacitan berada di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, di wilayah pegunungan utara Kabupaten Pacitan. Kawasan ini mengenang masa ketika Panglima Besar Jenderal Sudirman bergerilya dan bermarkas di Pacitan pada 1949. Selain monumen, pengunjung juga bisa melihat rumah tempat Sudirman tinggal selama masa gerilya.

Sejarah Singkat

Setelah Agresi Militer Belanda II, Jenderal Sudirman memimpin pasukan bergerilya. Jalur ke Yogyakarta terhalang pasukan Belanda sehingga rombongan kembali ke wilayah Nawangan. Pasukan APRI bermarkas di sini dari 1 April hingga 7 Juli 1949, dan periode ini disebut sebagai masa terlama pasukan menetap di satu wilayah. Lokasi dipilih karena jauh dari jalan, berbukit sehingga sulit dijangkau, dan lebih hangat bagi Sudirman yang saat itu sakit paru-paru.

Apa yang Bisa Dilihat

  • Monumen di Gunung Gandrung. Kawasan monumen memiliki unsur simbolik seperti bangunan berbentuk pedang pora, pelataran dengan 70 anak tangga, dan delapan gerbang, yang menurut sebuah jurnal merefleksikan pesan sang jenderal.
  • Rumah markas gerilya. Rumah kayu beratap joglo di Dukuh Sobo, yang pernah ditempati Sudirman beserta ajudannya. Di dalamnya masih terdapat dipan kayu tempat Sudirman beristirahat serta meja dan kursi jati yang dulu dipakai untuk rapat.
  • Suasana pegunungan di sekeliling kawasan.

Perawatan Bangunan

Rumah markas dirawat secara tradisional dan diawasi lembaga cagar budaya. Kayunya tidak dicat agar kesan masa lalu terjaga, dan tata letaknya tidak diubah. Karena itu, pengunjung diminta menjaga kondisi bangunan.

Lokasi dan Akses

Kawasan ini berada di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, sekitar 46 km dari Alun-alun Ponorogo. Perjalanan dari Ponorogo, Pacitan, maupun Wonogiri memakan waktu lebih dari satu jam karena jalan berbukit dan berkelok. Jalan menuju rumah markas dari monumen berupa aspal kecil yang sedikit terjal; bertanyalah kepada penjual di sekitar monumen bila bingung arah.

Tips Berkunjung

  1. Datang pada hari kerja bila ingin suasana tenang. Hari Minggu dan libur lebih ramai.
  2. Siapkan kendaraan yang sehat karena jalan berbukit.
  3. Jaga rumah peninggalan. Jangan menyentuh atau memindahkan benda yang ada.
  4. Cek kondisi monumen sebelum datang. Sebuah laporan menyebut ruang dalam gedung monumen tidak selalu dibuka.
  5. Bawa jaket karena udara pegunungan cenderung sejuk.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Mengapa Jenderal Sudirman bermarkas di Nawangan?

Karena lokasinya jauh dari jalan, berbukit, dan sulit dijangkau pasukan Belanda.

Berapa lama Sudirman bermarkas di sini?

Sekitar 99 hari, dari 1 April hingga 7 Juli 1949.

Apa saja yang masih bisa dilihat?

Monumen, serta rumah peninggalan lengkap dengan dipan, meja, dan kursi yang dipakai pada masa gerilya.

Apakah jauh dari pusat Kota Pacitan?

Cukup jauh dan berbukit. Siapkan waktu perjalanan lebih dari satu jam.

Kawasan ini cocok untuk wisata sejarah dan edukasi bagi sekolah, komunitas, dan keluarga. Hubungi Mujiati Tour Pacitan untuk menyusun perjalanan privat, atau lihat juga Museum dan Galeri SBY-ANI sebagai pelengkap wisata sejarah di Pacitan.